Pencetus dan Penggerak Pendidikan di Indonesia dari Masa ke Masa hingga 2026

Pencetus dan Penggerak Pendidikan di Indonesia dari Masa ke Masa hingga 2026

Kalau kita berbicara tentang pendidikan Indonesia, rasanya kurang lengkap kalau hanya membahas sekolah, kurikulum, buku pelajaran, seragam, ujian, atau sekarang yang sudah mulai akrab dengan istilah digitalisasi pendidikan. Di balik semua itu ada perjalanan panjang yang tidak sebentar.

Pendidikan di Indonesia tidak muncul begitu saja. Jauh sebelum ada sekolah dengan gedung bertingkat, komputer, internet, Google Classroom, bahkan sebelum guru sibuk mengisi berbagai aplikasi administrasi, masyarakat Nusantara sebenarnya sudah memiliki tradisi pendidikan sendiri.

Ada pesantren, padepokan, surau, madrasah, hingga sistem pendidikan tradisional di berbagai daerah. Dari sanalah perjalanan pendidikan Indonesia kemudian berkembang dan mengalami banyak perubahan.

Menariknya, kalau ditanya siapa sebenarnya pencetus pendidikan di Indonesia, jawabannya tidak cukup hanya menyebut satu nama. Sebab pendidikan Indonesia dibangun oleh banyak tokoh dan gerakan, dari masa kerajaan, masa kolonial, masa kebangkitan nasional, kemerdekaan, hingga era modern.

Namun, kalau ada satu nama yang paling sering disebut sebagai Bapak Pendidikan Nasional, tentu kita mengenal Ki Hadjar Dewantara.

Lalu bagaimana ceritanya sampai pendidikan Indonesia bisa seperti sekarang?

Mari kita jalan-jalan sebentar menyusuri sejarahnya.

Pendidikan di Nusantara Sebelum Masa Kolonial

Sebelum bangsa Eropa datang ke Nusantara, masyarakat sebenarnya sudah mengenal pendidikan.

Pada masa kerajaan Hindu-Buddha, pendidikan berkembang melalui lingkungan kerajaan, padepokan, pertapaan, dan lembaga keagamaan. Ilmu yang dipelajari tidak hanya berkaitan dengan agama, tetapi juga bahasa, sastra, filsafat, pemerintahan, hingga berbagai keterampilan.

Kemudian berkembang pula pendidikan Islam melalui pesantren, surau, langgar, dan madrasah.

Pesantren menjadi salah satu lembaga pendidikan yang memiliki sejarah sangat panjang di Indonesia. Di tempat seperti inilah para santri mempelajari agama, membaca kitab, belajar kehidupan bermasyarakat, sekaligus membentuk karakter.

Jadi, kalau sekarang kita mengenal istilah pendidikan karakter, sebenarnya masyarakat Nusantara sudah lama mengenalnya. Hanya saja dulu belum dibuatkan modul setebal beberapa puluh halaman.

Pendidikan pada Masa Kolonial Belanda

Perubahan besar terjadi ketika kolonialisme berkembang.

Pemerintah kolonial Belanda kemudian mendirikan berbagai sekolah. Tetapi jangan dibayangkan sekolah pada masa itu langsung dibuat untuk mencerdaskan seluruh rakyat Indonesia.

Akses pendidikan sangat terbatas dan sering kali dibedakan berdasarkan status sosial serta kelompok masyarakat.

Ada sekolah untuk anak-anak Eropa, sekolah untuk kelompok masyarakat tertentu, dan sekolah yang diperuntukkan bagi penduduk pribumi.

Meskipun begitu, keberadaan sekolah-sekolah tersebut kemudian melahirkan kelompok masyarakat terdidik.

Dari kelompok inilah muncul berbagai pemikir dan tokoh pergerakan nasional.

Mereka mulai menyadari bahwa pendidikan bukan hanya soal membaca dan berhitung. Pendidikan dapat menjadi jalan untuk membangun kesadaran kebangsaan.

R.A. Kartini dan Gagasan Pendidikan Perempuan

Salah satu tokoh penting dalam sejarah pendidikan Indonesia adalah R.A. Kartini.

Kartini dikenal sebagai tokoh yang memperjuangkan pendidikan dan kemajuan perempuan.

Pada zamannya, kesempatan perempuan untuk memperoleh pendidikan sangat terbatas. Kartini melihat bahwa pendidikan merupakan jalan penting untuk meningkatkan martabat dan kemampuan perempuan.

Gagasan Kartini kemudian menjadi inspirasi bagi perkembangan pendidikan perempuan di Indonesia.

Perjuangannya menunjukkan bahwa pendidikan tidak seharusnya hanya menjadi hak kelompok tertentu.

Pendidikan harus membuka kesempatan bagi semua orang, termasuk perempuan.

Dewi Sartika dan Pendidikan untuk Perempuan

Selain Kartini, ada pula Dewi Sartika, tokoh pendidikan perempuan dari Jawa Barat.

Dewi Sartika mendirikan Sakola Istri di Bandung pada 1904. Sekolah tersebut kemudian berkembang menjadi salah satu tonggak penting pendidikan bagi perempuan di Indonesia.

Dewi Sartika tidak hanya berbicara mengenai pentingnya pendidikan, tetapi langsung mendirikan lembaga pendidikan.

Dari sini kita bisa melihat bahwa perubahan pendidikan tidak selalu dimulai dari pemerintah. Kadang perubahan justru dimulai dari seseorang yang melihat masalah di sekitarnya lalu berkata, “Kalau begitu, kita bikin sekolah.”

Dan benar-benar dibuat.

Ki Hadjar Dewantara: Bapak Pendidikan Nasional

Kalau membicarakan pencetus pendidikan nasional Indonesia, nama Ki Hadjar Dewantara tidak mungkin dilewatkan.

Ki Hadjar Dewantara lahir dengan nama Raden Mas Soewardi Soerjaningrat.

Ia merupakan salah satu tokoh penting dalam perjuangan pendidikan dan kemerdekaan Indonesia.

Pada 1922, Ki Hadjar Dewantara mendirikan Perguruan Taman Siswa.

Tujuannya bukan sekadar memberikan pelajaran kepada anak-anak. Ia ingin membangun sistem pendidikan yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat Indonesia dan tidak sepenuhnya bergantung pada sistem pendidikan kolonial.

Ki Hadjar Dewantara memiliki gagasan pendidikan yang sangat kuat.

Salah satu semboyannya yang terkenal adalah:

Ing ngarso sung tulodo, ing madya mangun karso, tut wuri handayani.

Secara sederhana, seorang pendidik ketika berada di depan harus memberikan teladan, ketika berada di tengah harus membangun semangat, dan ketika berada di belakang harus memberikan dorongan.

Konsep tersebut sampai sekarang masih sangat dikenal oleh para guru Indonesia.

Bahkan kata “Tut Wuri Handayani” menjadi semboyan pendidikan nasional dan bagian dari identitas pendidikan Indonesia.

Taman Siswa dan Pendidikan Nasional

Taman Siswa menjadi salah satu tonggak penting dalam perkembangan pendidikan nasional.

Konsep pendidikan yang dikembangkan Ki Hadjar Dewantara menekankan kemerdekaan belajar, kebudayaan, karakter, dan perkembangan anak.

Menariknya, gagasan tentang pendidikan yang memerdekakan ini masih sangat relevan hingga sekarang.

Ketika Indonesia memasuki era Kurikulum Merdeka dan kemudian berbicara mengenai pembelajaran yang lebih bermakna, berkesadaran, dan menyenangkan, kita sebenarnya sedang kembali mengingat bahwa pendidikan bukan hanya soal mengejar nilai.

Anak juga manusia.

Bukan mesin penghasil nilai rapor.

Mohammad Syafei dan INS Kayutanam

Tokoh lain yang cukup penting dalam sejarah pendidikan Indonesia adalah Mohammad Syafei.

Ia mendirikan INS Kayutanam di Sumatera Barat pada 1926.

Pendidikan yang dikembangkan Mohammad Syafei menekankan keterampilan, kemandirian, kreativitas, dan kemampuan praktis.

Peserta didik tidak hanya diajak menghafal teori, tetapi juga melakukan berbagai kegiatan yang dapat membangun kemampuan hidup.

Gagasan seperti ini kembali terasa relevan dalam pendidikan modern, terutama ketika sekolah mulai mendorong keterampilan, kreativitas, proyek, kewirausahaan, dan kemampuan memecahkan masalah.

Pendidikan pada Masa Pendudukan Jepang

Ketika Jepang datang menggantikan Belanda, sistem pendidikan kembali mengalami perubahan.

Bahasa Belanda mulai dikurangi penggunaannya dan bahasa Indonesia mendapatkan ruang yang lebih luas.

Namun, pendidikan pada masa Jepang juga tidak bisa dilepaskan dari kepentingan politik dan perang.

Sekolah digunakan untuk mendukung kepentingan pemerintah pendudukan Jepang.

Meskipun demikian, perkembangan penggunaan bahasa Indonesia dan pengalaman organisasi pada masa tersebut ikut memberikan pengaruh terhadap perjalanan bangsa Indonesia menuju kemerdekaan.

Pendidikan Setelah Indonesia Merdeka

Setelah Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945, tantangan pendidikan menjadi semakin besar.

Indonesia harus membangun negara yang baru berdiri dengan kondisi ekonomi, sosial, dan infrastruktur yang belum stabil.

Pendidikan kemudian dipandang sebagai salah satu alat utama untuk membangun bangsa.

Pemerintah mulai menyusun sistem pendidikan nasional.

Tujuannya jelas: pendidikan harus dapat dinikmati masyarakat Indonesia, bukan hanya kelompok tertentu.

Pada masa awal kemerdekaan, pendidikan juga memiliki tugas penting untuk membangun identitas nasional.

Bahasa Indonesia, sejarah, kewarganegaraan, dan kebudayaan menjadi bagian penting dalam pendidikan.

Mohammad Hatta dan Pentingnya Pendidikan

Selain dikenal sebagai proklamator dan wakil presiden pertama Indonesia, Mohammad Hatta juga memiliki perhatian besar terhadap pendidikan.

Hatta melihat pendidikan sebagai bagian penting dalam membangun masyarakat yang demokratis dan mandiri.

Baginya, bangsa yang merdeka bukan hanya bangsa yang memiliki pemerintahan sendiri, tetapi juga bangsa yang memiliki masyarakat terdidik dan mampu berpikir.

Gagasan seperti ini menjadi bagian dari pemikiran besar para pendiri bangsa.

Pendidikan dan Peran Para Menteri

Setelah Indonesia merdeka, perkembangan pendidikan tidak hanya ditentukan oleh satu tokoh.

Berbagai menteri pendidikan dari masa ke masa ikut menentukan arah kebijakan pendidikan.

Mulai dari penyusunan sistem pendidikan nasional, perubahan kurikulum, pembangunan sekolah, peningkatan kualitas guru, hingga perluasan akses pendidikan.

Kurikulum pun terus berubah.

Ada kurikulum 1947, 1952, 1964, 1968, 1975, 1984, 1994, Kurikulum Berbasis Kompetensi 2004, KTSP 2006, Kurikulum 2013, hingga Kurikulum Merdeka.

Nama kurikulumnya berubah-ubah.

Guru pun kadang ikut berubah ekspresi ketika mendengar kata “kurikulum baru”.

Tapi pada dasarnya tujuan besarnya tetap sama: bagaimana pendidikan Indonesia bisa menghasilkan manusia yang lebih baik.

Era Reformasi dan Perubahan Pendidikan

Setelah Reformasi 1998, pendidikan Indonesia mengalami berbagai perubahan besar.

Otonomi daerah membuat pengelolaan pendidikan mengalami penyesuaian.

Teknologi mulai berkembang.

Internet mulai masuk sekolah.

Komputer mulai digunakan.

Kemudian muncul berbagai sistem digital pendidikan.

Guru yang dulu membawa buku tebal sekarang mulai membawa laptop.

Administrasi yang dulu ditulis di kertas mulai masuk aplikasi.

Dan tentu saja, lahirlah kalimat yang sangat familiar di dunia pendidikan:

“Servernya sedang gangguan.”

Kalimat sederhana, tetapi mampu membuat kopi guru mendadak terasa kurang manis.

Kurikulum 2013

Kurikulum 2013 menjadi salah satu perubahan besar dalam perjalanan pendidikan Indonesia.

Kurikulum ini menekankan kompetensi pengetahuan, keterampilan, dan sikap.

Pembelajaran diharapkan tidak hanya berpusat pada guru, tetapi mendorong aktivitas peserta didik.

Pendekatan saintifik juga menjadi salah satu ciri yang cukup dikenal.

Guru kemudian mulai akrab dengan istilah mengamati, menanya, mencoba, menalar, dan mengomunikasikan.

Kurikulum Merdeka

Kemudian Indonesia memasuki fase baru dengan hadirnya Kurikulum Merdeka.

Kurikulum ini memberikan ruang yang lebih besar bagi sekolah dan guru untuk menyesuaikan pembelajaran dengan kondisi peserta didik.

Pembelajaran tidak hanya mengejar penyelesaian materi, tetapi juga memperhatikan kompetensi dan karakter.

Ada Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila, pembelajaran berdiferensiasi, asesmen, serta berbagai pendekatan pembelajaran yang lebih fleksibel.

Dalam perkembangannya, pendidikan Indonesia juga mulai mengenal istilah Pembelajaran Mendalam.

Pembelajaran diarahkan agar tidak berhenti pada kegiatan menghafal.

Peserta didik diharapkan benar-benar memahami, menghubungkan, menerapkan, dan merefleksikan apa yang dipelajari.

Pendidikan Indonesia pada 2026

Memasuki tahun 2026, pendidikan Indonesia sudah berada di dunia yang jauh berbeda dibandingkan masa Ki Hadjar Dewantara.

Dulu guru mengajar menggunakan papan tulis dan kapur.

Sekarang guru bisa menggunakan laptop, proyektor, video pembelajaran, platform digital, aplikasi administrasi, hingga kecerdasan buatan.

Peserta didik pun hidup di tengah internet dan media sosial.

Informasi yang dulu harus dicari di perpustakaan sekarang bisa ditemukan dalam hitungan detik.

Tetapi tantangannya justru semakin besar.

Guru tidak hanya dituntut mampu menyampaikan materi.

Guru juga harus membantu peserta didik membedakan informasi yang benar dan salah.

Kemampuan berpikir kritis menjadi semakin penting.

Literasi digital menjadi kebutuhan.

Karakter tetap harus dibangun.

Dan pendidikan harus mampu beradaptasi dengan perkembangan teknologi, termasuk kecerdasan buatan atau AI.

Siapa Sebenarnya Pencetus Pendidikan Indonesia?

Kalau pertanyaannya adalah siapa pencetus pendidikan Indonesia, maka jawabannya tidak sesederhana satu nama.

Pendidikan Indonesia merupakan hasil perjalanan panjang.

Ada pendidikan tradisional Nusantara.

Ada pesantren dan madrasah.

Ada tokoh seperti R.A. Kartini dan Dewi Sartika yang memperjuangkan pendidikan perempuan.

Ada Mohammad Syafei yang mengembangkan pendidikan berbasis keterampilan.

Ada Ki Hadjar Dewantara yang menjadi tokoh sentral pendidikan nasional melalui Taman Siswa.

Ada para pendiri bangsa yang menempatkan pendidikan sebagai bagian penting dalam membangun Indonesia.

Dan setelah kemerdekaan, ada ribuan bahkan jutaan guru yang meneruskan perjuangan tersebut di ruang-ruang kelas.

Jadi sebenarnya pencetus pendidikan Indonesia bukan hanya satu orang.

Pendidikan Indonesia adalah hasil perjuangan banyak generasi.

Guru: Penerus Perjuangan Pendidikan

Pada akhirnya, sehebat apa pun kurikulum yang dibuat, pendidikan tetap membutuhkan manusia.

Ada guru yang datang pagi-pagi ke sekolah.

Ada guru yang menyiapkan materi sampai malam.

Ada guru yang mengajar dengan fasilitas lengkap.

Ada juga guru yang mengajar dengan fasilitas seadanya.

Ada guru yang mengajar menggunakan teknologi canggih.

Ada pula guru yang papan tulisnya sudah mulai “bersejarah”.

Tetapi semuanya memiliki satu tugas yang sama: membantu anak-anak belajar dan berkembang.

Karena itulah perjuangan pendidikan sebenarnya tidak berhenti pada Ki Hadjar Dewantara.

Perjuangan tersebut diteruskan oleh guru-guru dari generasi ke generasi.

Pendidikan Indonesia Belum Selesai

Sejarah pendidikan Indonesia dari masa ke masa menunjukkan satu hal penting: pendidikan selalu berubah.

Dari padepokan menjadi sekolah.

Dari papan tulis menjadi layar digital.

Dari buku cetak menjadi sumber belajar online.

Dari pembelajaran satu arah menjadi pembelajaran yang lebih interaktif.

Dan sekarang kita mulai memasuki era kecerdasan buatan.

Namun teknologi hanyalah alat.

Pendidikan tetap membutuhkan nilai, karakter, keteladanan, empati, dan manusia yang mampu membimbing manusia lainnya.

Mungkin suatu hari nanti AI bisa membantu membuat soal, merancang materi, menyusun administrasi, bahkan membantu guru menganalisis hasil belajar.

Tetapi satu hal yang tidak boleh hilang adalah hubungan manusia antara guru dan peserta didik.

Sebab pendidikan bukan sekadar memindahkan pengetahuan dari kepala guru ke kepala siswa.

Pendidikan adalah proses membentuk manusia.

Penutup

Perjalanan pendidikan Indonesia dari masa awal hingga 2026 adalah perjalanan yang panjang dan penuh perubahan.

Mulai dari pendidikan tradisional masyarakat Nusantara, pesantren, sekolah kolonial, perjuangan pendidikan perempuan, lahirnya Taman Siswa, masa kemerdekaan, berbagai perubahan kurikulum, hingga era digital dan kecerdasan buatan.

Di tengah perjalanan tersebut, Ki Hadjar Dewantara tetap menjadi salah satu tokoh paling penting dan simbol pendidikan nasional Indonesia.

Namun perjuangan pendidikan tidak berhenti pada satu tokoh.

Setiap guru yang mengajar hari ini sebenarnya sedang melanjutkan rantai sejarah tersebut.

Mungkin tidak ada yang membuat patung untuk semua guru.

Mungkin tidak semua nama guru masuk buku sejarah.

Tetapi dari tangan merekalah generasi berikutnya dibentuk.

Dan kalau dipikir-pikir, tugas guru memang luar biasa.

Mengajar anak-anak hari ini, tetapi sebenarnya sedang mempersiapkan manusia yang akan menjalankan Indonesia di masa depan.

Itulah perjalanan pendidikan Indonesia.

Belum selesai.

Karena selama masih ada anak yang belajar, akan selalu ada cerita baru dalam sejarah pendidikan Indonesia.