Mohammad Syafei: Tokoh Pendidikan Indonesia dan Gagasan Pendidikan yang Membentuk Kemandirian
Mohammad Syafei: Tokoh Pendidikan Indonesia dan Gagasan Pendidikan yang Membentuk Kemandirian

Mohammad Syafei: Tokoh Pendidikan Indonesia dan Gagasan Pendidikan yang Membentuk Kemandirian

Diposting pada

Mohammad Syafei merupakan salah satu tokoh penting dalam sejarah pendidikan Indonesia. Namanya memang tidak selalu disebut sebanyak Ki Hadjar Dewantara atau R.A. Kartini, tetapi gagasan pendidikannya memiliki pengaruh yang besar terhadap perkembangan pendidikan nasional. Mohammad Syafei dikenal sebagai pendiri INS Kayutanam, sebuah lembaga pendidikan yang mengembangkan konsep pendidikan berdasarkan kemandirian, kreativitas, keterampilan, dan kecakapan hidup.

Di tengah sistem pendidikan kolonial yang pada masa itu cenderung menghasilkan tenaga terdidik untuk memenuhi kebutuhan pemerintah Hindia Belanda, Mohammad Syafei menawarkan gagasan yang berbeda. Menurutnya, pendidikan tidak seharusnya hanya membuat seseorang pandai menghafal pelajaran. Pendidikan harus mampu membentuk manusia yang mandiri, terampil, kreatif, bertanggung jawab, dan mampu menghasilkan sesuatu yang bermanfaat bagi kehidupan.

Pemikiran tersebut terasa menarik jika dikaitkan dengan pendidikan masa sekarang. Sekolah tidak cukup hanya mengajarkan teori. Peserta didik juga perlu diberi kesempatan untuk mencoba, membuat karya, memecahkan masalah, bekerja sama, dan belajar bertanggung jawab. Inilah salah satu warisan pemikiran Mohammad Syafei yang masih relevan hingga saat ini.

Mengenal Mohammad Syafei

Mohammad Syafei lahir pada 21 Januari 1893 di Ketapang, Kalimantan Barat. Ia kemudian tumbuh dan mendapatkan pendidikan pada masa pemerintahan kolonial Belanda. Perjalanan hidupnya memperlihatkan bahwa pendidikan merupakan bagian penting dalam perjuangan untuk membangun bangsa.

Pada masa itu, kesempatan memperoleh pendidikan bagi masyarakat pribumi masih sangat terbatas. Pendidikan kolonial memiliki struktur dan tujuan yang tidak sepenuhnya diarahkan untuk membangun kemandirian rakyat Indonesia.

Mohammad Syafei melihat kondisi tersebut sebagai persoalan yang harus diubah. Ia berpendapat bahwa rakyat Indonesia membutuhkan sistem pendidikan yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat sendiri.

Baginya, sekolah bukan sekadar tempat untuk mendapatkan ijazah. Sekolah harus menjadi tempat untuk membentuk manusia yang memiliki kemampuan berpikir sekaligus kemampuan bekerja.

Dengan kata lain, pendidikan harus menyentuh kehidupan nyata.

Perjalanan Pendidikan Mohammad Syafei

Mohammad Syafei memiliki pengalaman pendidikan yang cukup luas. Ia tidak hanya mempelajari ilmu pengetahuan, tetapi juga memperhatikan berbagai sistem pendidikan yang berkembang di luar Indonesia.

Ia pernah mendapatkan kesempatan belajar di Belanda. Pengalaman tersebut menjadi salah satu bagian penting dalam perkembangan pemikirannya mengenai pendidikan.

Selama berada di Eropa, Mohammad Syafei mempelajari berbagai gagasan pendidikan. Ia melihat bagaimana pendidikan dapat dikembangkan dengan memperhatikan kebutuhan peserta didik, keterampilan, serta kehidupan masyarakat.

Namun, ia tidak sekadar meniru sistem pendidikan yang dilihatnya di luar negeri. Mohammad Syafei berusaha menyesuaikan gagasan tersebut dengan kondisi masyarakat Indonesia.

Inilah salah satu karakter penting pemikirannya.

Menurutnya, pendidikan Indonesia harus lahir dari kebutuhan bangsa Indonesia sendiri. Sekolah harus membantu masyarakat menghadapi persoalan nyata, bukan hanya mencetak orang yang mampu menjawab soal ujian.

Mohammad Syafei dan INS Kayutanam

Nama Mohammad Syafei sangat erat kaitannya dengan Indonesisch-Nederlandsch School (INS) Kayutanam di Sumatra Barat.

Sekolah ini didirikan oleh Mohammad Syafei pada 31 Oktober 1926 di Kayutanam, Sumatra Barat. INS kemudian berkembang menjadi salah satu lembaga pendidikan yang memiliki karakter khas dalam sejarah pendidikan Indonesia.

Mohammad Syafei mengembangkan pendidikan yang menekankan pada kemandirian dan keterampilan.

Peserta didik tidak hanya duduk di dalam kelas mendengarkan guru menjelaskan materi. Mereka juga diajak melakukan berbagai kegiatan yang berhubungan dengan kehidupan sehari-hari.

Baca juga:  Sejarah Kurikulum Pendidikan di Indonesia dari Awal Kemerdekaan sampai 2026

Konsep seperti ini cukup maju untuk zamannya.

Di sekolah tersebut, kegiatan pendidikan dapat dikaitkan dengan pekerjaan tangan, keterampilan, seni, pertanian, pertukangan, dan berbagai aktivitas produktif lainnya.

Tujuannya bukan semata-mata agar siswa menjadi pekerja terampil. Lebih jauh lagi, kegiatan tersebut dimaksudkan untuk membentuk sikap mandiri dan menghargai pekerjaan.

Bagi Mohammad Syafei, tangan, pikiran, dan hati harus berkembang secara seimbang.

Pendidikan Tidak Hanya Mengasah Otak

Salah satu gagasan penting Mohammad Syafei adalah bahwa pendidikan tidak boleh hanya berorientasi pada kecerdasan intelektual.

Anak perlu dikembangkan secara utuh.

Mereka harus mempunyai pengetahuan, tetapi juga perlu memiliki keterampilan. Mereka harus mampu berpikir, tetapi juga mampu melakukan sesuatu. Mereka harus mempunyai cita-cita, tetapi juga memiliki keberanian untuk bekerja dan berusaha.

Pandangan tersebut menunjukkan bahwa pendidikan menurut Mohammad Syafei bersifat menyeluruh.

Jika seorang siswa hanya pandai menghafal tetapi tidak mampu menggunakan pengetahuannya untuk menyelesaikan persoalan, pendidikan tersebut belum sepenuhnya berhasil.

Sebaliknya, jika seorang siswa memiliki keterampilan tetapi tidak mempunyai sikap tanggung jawab, pendidikan juga belum lengkap.

Karena itu, pendidikan harus membentuk keseimbangan antara pikiran, perasaan, keterampilan, dan karakter.

Konsep Pendidikan yang Berorientasi pada Kemandirian

Kemandirian merupakan salah satu kata kunci dalam pemikiran Mohammad Syafei.

Ia ingin agar lulusan sekolah tidak selalu bergantung kepada orang lain. Pendidikan harus memberikan bekal agar seseorang mampu berdiri di atas kemampuannya sendiri.

Dalam konteks masyarakat Indonesia pada masa kolonial, gagasan ini memiliki makna yang sangat penting.

Masyarakat membutuhkan pendidikan yang dapat membantu mereka menjadi manusia yang produktif dan percaya terhadap kemampuan sendiri.

Kemandirian tidak berarti seseorang harus hidup sendirian tanpa bantuan orang lain. Kemandirian lebih berkaitan dengan kemampuan untuk mengambil keputusan, bekerja, berkarya, dan bertanggung jawab terhadap pilihan.

Prinsip tersebut tetap relevan dalam pendidikan modern.

Seorang siswa yang mampu mencari informasi sendiri, mengembangkan ide, membuat karya, menyelesaikan masalah, dan bertanggung jawab terhadap tugasnya sedang belajar menjadi pribadi yang mandiri.

Pendidikan Berbasis Praktik

Mohammad Syafei memberikan perhatian besar terhadap kegiatan praktik.

Menurut pendekatan seperti ini, belajar tidak hanya dilakukan dengan membaca buku atau mendengarkan ceramah. Siswa juga perlu mengalami secara langsung proses belajar.

Misalnya, ketika belajar tentang pertanian, siswa dapat dikenalkan dengan kegiatan bercocok tanam. Ketika mempelajari keterampilan tertentu, siswa dapat langsung mencoba membuat sebuah produk.

Model pembelajaran semacam ini dapat membuat proses pendidikan menjadi lebih dekat dengan kehidupan.

Siswa tidak hanya bertanya, “Apa yang harus saya hafalkan?”

Mereka juga belajar bertanya:

“Apa yang bisa saya lakukan dengan pengetahuan ini?”

Pertanyaan tersebut sangat penting karena ilmu pengetahuan seharusnya memiliki manfaat bagi kehidupan.

Pentingnya Keterampilan dalam Pendidikan

Mohammad Syafei tidak memandang keterampilan sebagai sesuatu yang lebih rendah daripada pengetahuan akademik.

Justru keterampilan menjadi bagian penting dalam pendidikan.

Ia mendorong peserta didik untuk mengenal berbagai aktivitas produktif. Dengan keterampilan tersebut, siswa dapat memahami bahwa pekerjaan membutuhkan ketekunan, ketelitian, kreativitas, dan tanggung jawab.

Kegiatan keterampilan juga dapat membantu siswa menemukan potensi dirinya.

Tidak semua anak memiliki kemampuan yang sama.

Ada anak yang kuat dalam matematika. Ada yang memiliki kemampuan bahasa. Ada yang menyukai seni. Ada yang senang bekerja dengan tangan. Ada pula yang mempunyai kemampuan memimpin dan berorganisasi.

Pendidikan yang baik seharusnya memberikan ruang bagi keberagaman tersebut.

Pemikiran Mohammad Syafei mengenai keterampilan dapat dilihat sebagai salah satu upaya untuk menghargai potensi peserta didik secara lebih luas.

Sekolah sebagai Tempat Berkarya

Dalam gagasan Mohammad Syafei, sekolah bukan hanya tempat untuk menerima pelajaran, tetapi juga tempat untuk menghasilkan karya.

Baca juga:  Mohammad Hatta: Proklamator, Pejuang Kemerdekaan, dan Bapak Koperasi Indonesia

Peserta didik didorong agar menjadi individu yang aktif.

Mereka tidak hanya menjadi penerima informasi, tetapi juga menjadi pencipta.

Konsep ini sangat dekat dengan pembelajaran yang saat ini banyak dikembangkan di sekolah, seperti pembelajaran berbasis proyek, praktik, kreativitas, kewirausahaan, dan kegiatan pengembangan keterampilan.

Misalnya, siswa dapat diberikan tugas membuat produk sederhana dari bahan yang tersedia di lingkungan sekitar.

Dari kegiatan tersebut, siswa dapat belajar banyak hal sekaligus: perencanaan, kerja sama, matematika, komunikasi, kreativitas, ketelitian, hingga tanggung jawab.

Satu kegiatan dapat menjadi pintu masuk bagi berbagai macam pengetahuan.

Hubungan Pendidikan dengan Kehidupan Masyarakat

Mohammad Syafei juga memandang pendidikan sebagai bagian dari kehidupan masyarakat.

Sekolah tidak boleh berdiri terlalu jauh dari lingkungan.

Pendidikan seharusnya membantu peserta didik memahami masyarakat tempat mereka hidup.

Jika masyarakat memiliki persoalan tertentu, pendidikan dapat menjadi salah satu sarana untuk menemukan solusi.

Misalnya, lingkungan menghadapi persoalan sampah. Sekolah dapat mengajak siswa mempelajari pengelolaan sampah.

Jika masyarakat mempunyai potensi pertanian, sekolah dapat mengenalkan teknologi pertanian sederhana.

Jika daerah memiliki kerajinan lokal, siswa dapat belajar mengenai proses produksi sekaligus nilai budaya yang ada di dalamnya.

Dengan pendekatan seperti itu, sekolah menjadi lebih hidup.

Siswa memahami bahwa pelajaran yang mereka dapatkan memiliki hubungan dengan dunia nyata.

Pendidikan Karakter dalam Pemikiran Mohammad Syafei

Selain pengetahuan dan keterampilan, pendidikan karakter juga menjadi bagian penting dalam pemikiran Mohammad Syafei.

Kemandirian tanpa tanggung jawab dapat menjadi masalah. Kreativitas tanpa etika juga dapat disalahgunakan.

Karena itu, pendidikan harus membentuk sikap dan karakter.

Peserta didik perlu belajar tentang kejujuran, kerja keras, disiplin, tanggung jawab, keberanian, dan kepedulian terhadap orang lain.

Nilai-nilai tersebut tidak cukup diajarkan melalui definisi di buku.

Karakter lebih efektif dibangun melalui kebiasaan.

Ketika siswa diberikan tanggung jawab untuk merawat alat praktik, misalnya, mereka belajar bertanggung jawab.

Ketika siswa bekerja dalam kelompok, mereka belajar bekerja sama.

Ketika siswa membuat sebuah karya dari awal hingga selesai, mereka belajar tentang ketekunan.

Dengan demikian, pendidikan karakter dapat berlangsung melalui aktivitas sehari-hari.

Mohammad Syafei dan Semangat Kebangsaan

Pemikiran Mohammad Syafei tidak dapat dilepaskan dari situasi Indonesia pada masa kolonial.

Pendidikan menjadi salah satu sarana untuk membangun kesadaran bangsa.

Dengan memberikan pendidikan kepada masyarakat, bangsa Indonesia dapat meningkatkan kemampuan untuk menentukan masa depannya sendiri.

Mohammad Syafei tidak ingin pendidikan hanya menghasilkan manusia yang bekerja untuk kepentingan sistem kolonial.

Ia ingin pendidikan membentuk manusia yang mampu berpikir bebas, mandiri, dan memiliki rasa tanggung jawab terhadap masyarakat.

Dalam konteks perjuangan kebangsaan, sekolah menjadi salah satu ruang untuk menanamkan kesadaran bahwa rakyat Indonesia mempunyai kemampuan untuk membangun kehidupan sendiri.

Perbedaan dengan Pendidikan Konvensional

Pada masa Mohammad Syafei, model pendidikan yang berorientasi pada hafalan dan pengajaran di kelas masih sangat kuat.

Pendekatan yang dikembangkan di INS Kayutanam mencoba memberikan warna yang berbeda.

Siswa lebih banyak dilibatkan dalam kegiatan nyata. Guru bukan sekadar pemberi informasi, tetapi juga berperan sebagai pembimbing.

Kegiatan pendidikan dapat dilakukan melalui praktik, pekerjaan tangan, seni, olahraga, dan aktivitas lainnya.

Pendekatan tersebut menunjukkan bahwa proses belajar tidak harus selalu berlangsung dalam bentuk ceramah.

Anak dapat belajar melalui pengalaman.

Bahkan, kegagalan dalam membuat sebuah karya dapat menjadi bagian dari proses pembelajaran.

Di sinilah pendidikan menjadi lebih manusiawi.

Guru dalam Pandangan Pendidikan Mohammad Syafei

Guru mempunyai posisi penting dalam pendidikan.

Namun, guru bukan satu-satunya sumber pengetahuan.

Guru perlu memberikan kesempatan kepada siswa untuk berkembang.

Guru menjadi pembimbing yang membantu siswa menemukan kemampuan dirinya.

Dalam pendekatan seperti ini, guru harus mengenal karakter peserta didik.

Baca juga:  Sistem Pendidikan Ibu Kartini: Ketika Pendidikan Perempuan Mulai Berani Membuka Pintu

Setiap anak memiliki kecepatan belajar, minat, dan kemampuan yang berbeda.

Ada siswa yang membutuhkan penjelasan lebih banyak. Ada yang lebih mudah memahami materi melalui gambar. Ada yang belajar lebih baik melalui praktik.

Guru yang mampu memberikan ruang bagi perbedaan tersebut dapat menciptakan pembelajaran yang lebih bermakna.

Relevansi Pemikiran Mohammad Syafei dengan Pendidikan Saat Ini

Meskipun gagasan Mohammad Syafei lahir hampir satu abad yang lalu, sejumlah prinsipnya masih dapat diterapkan dalam pendidikan masa kini.

Salah satunya adalah pembelajaran yang berorientasi pada aktivitas peserta didik.

Sekolah sekarang semakin banyak menggunakan pendekatan proyek, praktik, kolaborasi, presentasi, eksperimen, dan pemecahan masalah.

Semua itu mempunyai hubungan dengan gagasan bahwa siswa perlu aktif dalam proses pendidikan.

Teknologi juga membuka peluang yang lebih besar.

Jika dahulu siswa harus menggunakan alat sederhana untuk menghasilkan karya, sekarang mereka dapat memanfaatkan komputer, internet, perangkat multimedia, robotika, dan berbagai teknologi digital.

Namun, prinsip dasarnya tetap sama:

teknologi hanyalah alat; yang paling penting adalah bagaimana siswa menggunakannya untuk belajar dan berkarya.

Pendidikan yang Menghasilkan Manusia Produktif

Salah satu warisan pemikiran Mohammad Syafei yang menarik adalah gagasan mengenai manusia produktif.

Pendidikan idealnya tidak hanya membuat seseorang mampu mencari pekerjaan, tetapi juga memiliki kemampuan untuk menciptakan peluang.

Seseorang yang memiliki keterampilan dan kreativitas dapat mengembangkan berbagai kegiatan produktif.

Dalam konteks saat ini, gagasan tersebut dapat diterapkan melalui pendidikan kewirausahaan, proyek kreatif, teknologi, ekonomi kreatif, dan keterampilan vokasional.

Siswa dapat belajar membuat produk sederhana, melakukan pemasaran digital, membuat desain, mengembangkan aplikasi, membuat konten edukatif, atau mengembangkan potensi lokal.

Tentunya semua kegiatan tersebut harus disesuaikan dengan usia dan kemampuan peserta didik.

Warisan Pemikiran Mohammad Syafei

Warisan terbesar Mohammad Syafei bukan hanya berupa bangunan sekolah atau lembaga pendidikan.

Warisan yang lebih penting adalah gagasan bahwa pendidikan harus membentuk manusia yang mandiri dan mampu berkarya.

Pendidikan harus dekat dengan kehidupan.

Pendidikan harus memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk mencoba.

Pendidikan juga harus membantu anak menemukan potensi dirinya.

Gagasan tersebut memberikan perspektif bahwa keberhasilan pendidikan tidak selalu dapat dilihat dari nilai ujian.

Seorang siswa yang mampu bekerja sama, menyelesaikan masalah, membuat karya, bertanggung jawab, dan percaya diri juga menunjukkan keberhasilan pendidikan.

Mengapa Mohammad Syafei Penting untuk Dikenang?

Nama Mohammad Syafei penting untuk dikenang karena ia merupakan salah satu tokoh yang berani menawarkan pendekatan pendidikan yang berbeda pada zamannya.

Ia melihat pendidikan bukan hanya sebagai proses memasukkan pengetahuan ke dalam kepala peserta didik.

Pendidikan adalah proses membangun manusia.

Manusia yang memiliki pikiran.

Manusia yang memiliki keterampilan.

Manusia yang memiliki karakter.

Dan yang tidak kalah penting, manusia yang mampu berdiri dengan kekuatan dirinya sendiri.

Pemikiran tersebut sangat relevan ketika dunia pendidikan menghadapi tantangan baru.

Di era digital, siswa dapat memperoleh informasi dengan sangat mudah. Tinggal membuka internet, informasi sudah tersedia. Karena itu, tugas pendidikan tidak cukup hanya memberikan informasi.

Sekolah harus membantu siswa memilah informasi, berpikir kritis, bekerja sama, menciptakan sesuatu, dan menggunakan pengetahuan secara bertanggung jawab.

Di sinilah pemikiran Mohammad Syafei kembali terasa penting.

Penutup

Mohammad Syafei merupakan salah satu tokoh pendidikan Indonesia yang memberikan perhatian besar terhadap kemandirian, keterampilan, kreativitas, praktik, dan pembentukan karakter. Melalui INS Kayutanam, ia menunjukkan bahwa pendidikan dapat dikembangkan dengan pendekatan yang lebih dekat dengan kehidupan peserta didik.

Pendidikan menurut gagasannya bukan sekadar kegiatan menghafal buku dan mengejar nilai. Pendidikan harus membuat peserta didik mampu berpikir sekaligus bertindak. Anak harus diberikan kesempatan untuk mencoba, membuat kesalahan, memperbaiki kesalahan, menghasilkan karya, dan bertanggung jawab.

Semangat tersebut masih dapat diterapkan dalam pendidikan Indonesia saat ini. Sekolah dapat menjadi tempat siswa tidak hanya belajar teori, tetapi juga belajar kehidupan.

Pada akhirnya, tujuan pendidikan bukan hanya membuat seseorang tahu, tetapi juga membuatnya mampu melakukan sesuatu yang bermanfaat.

Itulah salah satu pesan penting dari pemikiran Mohammad Syafei: pendidikan harus melahirkan manusia yang merdeka dalam berpikir, terampil dalam berkarya, dan mandiri dalam menjalani kehidupan.

Tinggalkan Balasan